Oleh : Abdusshomad Rifai, Lc
Bulan Ramadhan, Bulan Jihad
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, kebaikan dan keistimewaan. Semua pintu Surga dibuka, semua pintu neraka ditutup, bulan Alqur’an, di setiap malam Allah memerdekaan hamba-hambaNya dari api neraka dan keistimewaan luhur lainnya. Dari keistimewaan tersebut, maka bulan Ramadhan adalah bulan kesungguhan, bulan mujahadah dan bulan menyingsingkan lengan baju untuk meraih ridho Allah.
Itulah yang telah dicontohkan oleh Tauladan kita, Nabi Muhammad SAW., Beliau benar-benar mengisi bulan berkah ini dengan segala warna ketataan kepada Allah. Ya, semua warna ketaatan, baik di malam atau siang harinya, baik di masjid dan rumahnya, baik sholatnya, baca Al-Qur’annya, shodaqohnya. Dan termasuk pula JIHADNYA..
Bagi Beliau, bulan Ramadhan adalah bulan jihad dengan segala warnanya. Jihad dan peperangan yang Beliau arungi banyak yang terjadi pada Bulan Ramadhan. Diantaranya adalah perang yang sangat monumental dan selalu tertancap dan terkenang di hati-hati kaum muslimin. Dialah Perang Badr
Inilah Yaumul Furqon
Perang Badr adalah perang yang membedakan antara alhaq dari yang batil, perang antara keimanan melawan kekufuran. Dia adalah hari pembeda antara pengikut kebenaran dan pengikut Syaithon dan hawa nafsu. Dalam hal ini Allah SWT. berfirman :
….يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ _ الأنفال : 41
“….di hari Furqon, hari bertemu dua pasukan. Dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu” (QS. Al Anfal ayat : 41)
Kronologi Perang
Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadhan tahun 2 H. Rasulullah SAW. mendengar berita bahwa rombongan dagang Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan yang membawa harta melimpah bertolak dari Syam. Maka Rasulullah mengajak kaum muslimin untuk menghadang rombongan tersebut, untuk membalas kedzoliman orang-orang Quraisy kepada kaum muslimin sewaktu di Mekkah. Pada hari kedelapan di bulan Ramadhan, Beliau bersama sekitar 313 shahabat keluar untuk menghadang rombongan tersebut. Kendaraan yang mereka miliki hanya dua ekor kuda dan 70 ekor kuda, sehingga beberapa orang saling bergantian mengendarai satu ekor unta. Bahkan dengan ketawadhu’an Rasulullah, Beliau pun bersama Ali dan Martsad Al-Ghonawi bergantian menunggangi seekor unta. Bersama pasukan ini, Rasulullah SAW.keluar dari Madinah, dan terus berjalan sampai akhirnya Beliau sampai ke tempat yang tidak jauh dari sumur Badr.
Abu Sufyan yang mendengar keluarnya pasukan dari Madinah menuju ke arahnya, segera mengirim berita dan meminta bantuan kepada para pembesar di Mekkah. Begitu permohonan bantuan sampai, bersegeralah para penduduk Mekkah mempersiapkan diri dan persenjataan. Dan hampir seluruh pembesar dari kalangan Quraisy keluar. Kemudian orang-orang Musyrik tersebut keluar dari Mekkah dengan penuh keangkuhan dan kesombongan serta kemarahan yang besar terhadap Rasulullah SAW. dan para Shahabatnya yang ingin menyerang rombongan dagang mereka.
Ketika Rasulullah SAW. mendengar kedatangan pasukan Quraisy, Beliau bermusyawarah dengan para Shahabat apa yang akan mereka lakukan. Seluruh kaum Muhajirin dengan semangat tinggi mendukung apa saja yang diinginkan oleh Rasulullah. Begitu pula dukungan dari kaum Anshor. Bahkan wakil dari kaum Anshor, Sa’ad bin Mu’adz RA. mengatakan dengan lantangnya : “Demi Allah wahai Rasulullah, apabila engkau membawa kami ke laut sekalipun, pastilah kami akan mengarunginya bersamamu. Ayolah, berjuanglah bersama kami wahai Rasulullah”. Mendengar jawaban itu, Nabi sangatlah senang dan bangga kepada kaum Muhajirin dan Anshor. Nabi pun kemudian membawa pasukan singgah di dekat Badr.
Berkat kecerdikan Abu Sufyan, rombongan Quraisy sebenarnya telah lolos dan bebas dari kejaran pasukan Rasulullah. Oleh karenanya Abu Sufyan meminta pasukan Mekkah untuk kembali ke negerinya. Namun pasukan tersebut dengan keangkuhannya tidak mau kembali, tetapi mereka tetap menginginkan peperangan. Mereka terus berjalan menuju Badr, sehingga dua kubu pun saling mendekat, saling berhadapan dan pertempuran pun tak bisa terelakkan.
Sebelum terjadi peperangan, Rasulullah SAW. terus menerus tiada hentinya dengan penuh harap berdoa agar diberi kemenangan. Sampai-sampai serban Beliau jatuh dari kedua pundak Beliau. Abu Bakar RA. langsung memperbaiki letak serban tersebut seraya berkata : “Wahai Rasulullah, berhentilah memohon kepada Allah. Sesungguhnya Dia pasti akan memenuhi janji-Nya kepadamu ”. Namun Beliau do’a Beliau :
اللهُمَّ إِنَّكَ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلامِ، فَلا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ أَبَدًا _ رواه البخاري و مسلم
“ Ya Allah, apabila Engkau binasakan kelompok kaum muslimin yang ada ini, niscaya Engkau tidak akan disembah selama-lamanya ” ( HR. Bukhari dan Muslim)
Duel Satu Lawan Satu, Dahsyat dan Penuh Ketegangan
Dua pasukan dengan masing-masing misi dan keyakinannyanya, yang penuh kesiapan telah berhadapan. Sebagaimana kebiasaan, sebelum perang ada duel pembuka. Maka keluarlah wakil duel dari orang-orang kafir yaitu Utbah Bin Rabi’ah, Syaibah Bin Rabi’ah dan Walid Bin Utbah menantang kaum mukminin. Tantangan ini kemudian langsung dijawab dengan majunya tiga orang shahabat pilihan, yaitu : Ubaidah bin Harits, Ali bin Abi Tholib dan Hamzah. Keenam prajurit itu itu saling berhadapan. Ubaidah berhadapan dengan Utbah bin Rabi’ah, Ali berhadapan dengan Walid bin Utbah, sedangkan Hamzah berhadapan dengan Syaibah bin Robi’ah. Dua kubu dibelakang mereka melihat dengan penuh ketegangan dan kecemasan tinggi. Duel menegangkan pun dimulai. Masing-masing mengerahkan seluruh tenaga, keahlian dan kemampuan perangnya untuk bisa mengalahkan musuh masing-masiong dan untuk mempertahankan prinsip.
Setelah tanding berjalan beberapa saat, akhirnya dengan izin dan pertolongan Allah, Ali mampu membunuh Walid. Hamzah pun dengan mudah bisa membunuh Syaibah. Sedangkan Ubaidah, beliau bertarung dengan musuhnya dengan sengitnya. Masing-masing dari keduanya mampu melukai musuh. Namun akhirnya dengan bantuan Ali dan Hamzah, Utbahpun terbunuh. Perang tanding tersebut pun disudahi dengan kemenangan sempurna bagi kaum muslimin. Suasana panas, ketegangan dan emosi kedua kubu pun meningkat, maka bertemulah kedua pasukan. Perang dahsyatpun tak bisa terelakkan.
Perang sengitpun terjadi, dan Allah dengan kekuasaanNya menurunkan para malaikat untuk membantu kaum muslimin. Dan akhirnya kemenangan besar pun jatuh ke tangan kaum muslimin, yang mana dalam peperangan tersebut terbunuhlah sekitar 70 orang musyrik dan 70 lainnya menjadi tawanan perang. Termasuk yang terbunuh adalah Abu Jahal dan pembesar Quraisy lainnya. Adapun dari kalangan kaum muslimin yang mati syahid berjumlah 14 orang.
Jumlah yang Sedikit Mengalahkan Jumlah yang Besar
Kemenangan bukanlah dengan banyaknya jumlah, cukupnya finansial atau lengkapnya persenjataan. Tetapi kemenangan ada adalah karena pertolongan dari Allah yang akan datang karena iman, keyakinan dan juga kesabaran. Itulah kenyataan dan juga pelajaran dari perang Badr ini. Jumlah kaum muslimin hanya berjumlah kurang lebih 313 pasukan, sedangkan jumlah orang-orang kafir hampir mencapai 1000 pasukan. Namun dengan realita tersebut, kaum muslimin mendapatkan kemenangan gemilang dari Allah. Oleh karena Allah SWT. mengingatkan kita dengan firmanNya :
قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Orang-orang yang yakin bahwa mereka akan menemui Allah berkata : Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah dan Allah bersama orang-orang yang sabar ” (QS. Al Baqoroh ayat :249)
1000 Pelajaran Dari Perang Badar
Sungguh dalam perang Badar terdapat pelajaran yang sangat banyak bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran. Diantara pelajaran yang kita bisa petik dari perang mulia ini adalah :

  1. Kegigihan Rasulullah SAW. dalam membela dan meninggikan agama Allah
  2. Kesetiaan para Shahabat dalam membela Rasulullah SAW. kapan, di mana dan dalam kondisi apapun
  3. Pertolongan Allah pasti akan datang dan sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan
  4. Kemenangan datangnya dari Allah
  5. Sebab kemenangan bukanlah banyaknya jumlah, tetapi kemenangan datangnya adalah dari Allah melalui jalan keyakinan dan kesabaran.
  6. Pelajaran “Berapa banyak jumlah yang sedikit bisa mengalahkan jumlah yang besar”
  7. Disyariatkannya musyawarah di dalam Islam, yang mana Rasulullah di beberapa kesempatan bermusyawarah dengan para shahabat
  8. Ramadhan adalah bulan jihad, di mana perang Badr dan juga perang lainnya terjadi di bulan Ramadhan
  9. Keutamaan para Shahabat yang mengikuti perang Badr
  10. Berperangnya para malaikat dalam membantu kaum muslimin, dan segudang pelajaran lainnya. Wallahu A’lam

Maroji :
– Alfushuul Fii Siroti Arrosuul : Alhafidz Ibnu Katsir Ad-Dimasyqie
– Ar Rahiiq Almakhtuum : Syaikh Shafiyurrohman Almubarokfurie
– Haadzaa Alhabiib Ayyuhal Habib : Syaikh Abu Bakr Jabir Aljazairie