SHOLAT BAGI ORANG YANG SAKIT

Islam adalah agama yang mudah. Allah ta’ala menurunkan syari’at sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Allah tidak membebani suatu jiwa kecuali apa yang menjadi batas kemampuannya. Allah ta’ala juga telah menghapus kesukaran dan kesulitan bagi umat Islam. Semua ini karena Allah menurunkan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta, dan Allah menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya dan tidak menghendaki kesukaran.
Karena kemudan Islam, maka hamba-hamba Allah yang tidak mampu atau tidak sanggup menunaikan syari’at diberikan keringan bagi mereka. Bentuk-bentuk keringanan dan kemudahan yang Allah berikan kepada hamba-Nya bisa berupa :

  1. Takhfiful Isqooth(keringanan yang berupa penguguran syari’at) seperti: gugurnya kewajiban sholat jum’at, shaum, haji, umroh, jihad dan yang lainnya karena udzur yang sudah makruf (dikenal) dalam syari’at.
  2. Takhfifut Tanqish (keringan yang berupa pengurangan) seperti: mengqoshor sholat empat rokaat tatkala safar.
  3. Takhfiful Ibdal (keringanan yang berupa penggantian) seperti: digantinya wudlu dan mandi dengan tayammum saat ketiadaan air atau sakit. Juga digantinya sholat sambil berdiri dengan sholat sambil duduk bagi duduk bagi yang sakit.
  4. Takhfifut Taqdiim (keringanan yang berupa pemajuan waktu pelaksanaan) seperti: jamak takdim pada dua sholat Dzuhur dan Ashar. Atau dimajukannnya pembayaran Zakat Fitri pada bulan Ramadhan.
  5. Takhfifut Ta’khiir (keringan dalam bentuk pengakhiran) seperti: jamak ta’khir pada dua sholat maghrib dan Isya. Atau diakhirkannya pelaksanaan shaum Ramadhan bagi musafir dan orang yang sakit.
  6. Takhfifut Tarkhish (keringanan dalam bentuk rukhshoh) seperti: dibolehkannya memakan bangkai karena darurat.
  7. Takhfifut Taghyir (keringanan yang berupa perubahan sifat atau bentuk) seperti: dirubahnya sifat sholat khauf saat pertempuran sedang berkecamuk.

Sifat sholat bagi orang sakit
Orang sakit termasuk dalam golongan orang-orang yang mendapat keringanan dan kemudahan dalam menjalankan syari’at. Termasuk keringan dalam menjalankan sholat. Keringanan yang diberikan Islam kepada orang yang sakit bukan keringanan yang menggugurkan sholat, karena sholat tidak gugur karena sakit. Tetapi Allah memberikan keringanan-keringanan lain bagi orang yang sakit dalam sholatnya.

Berikut ini adalah sifat sholat bagi orang sakit sebagimana dijelaskan oleh Ahlul Ilmi:

  1. Orang yang tidak sanggup berdiri, hendaklah ia sholat sembari duduk.
  2. Apabila ia tidak mampu sholat sembari duduk, hendaklah ia sholat sembari berbaring dengan menghadapkan wajahnya ke kiblat. Disunahkan untuk berbaring diatas lambung kanan.
  3. Apabila tidak sanggup sholat sambil berbaring, hendaklah sholat sambil terlentang. Ini berdasarkan sabda Nabi shollallahu’alaihi wa sallam kepada ‘Imron bin Hushoin; “Sholatlah sambil berdiri, kalau tidak bisa maka sambil duduk, kalau tidak bisa maka sambil berbaring” (HR. Al Bukhori: 1050). Imam An Nasa’i menambahkan, “Kalau tidak bisa maka sambil terlentang”
  4. Orang yang mampu sholat sambil berdiri akan tetapi ia tidak mampu untuk ruku’ dan sujud, maka kewajiban berdiri tidaklah gugur darinya. Hendaklah ia sholat sembari berdiri dan memberi isyarat pada ruku’nya. Kemudian duduk dan memberi isyarat pada sujudnya. Ini berdasarkan firman Allah “Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’ ” (Al Baqoroh: 238), juga keumuman firman-Nya, “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (At Taghabun: 16) dan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam “Sholatlah sambil berdiri”
  5. Orang yang tidak mampu ruku’ dan sujud hendaklah melakukan isyarat pada keduanya. Dan ia menjadikan sujudnya lebih rendah daripada ruku’nya. Namun bila ia hanya tidak mampu sujud saja, hendaklah ia ruku’ (dengan sempurna) dan melakukan isyarat pada sujudnya.
  6. Bagi orang yang tidak mungkin untuk menundukkan punggungnya (saat ruku’) hendaklah ia menundukkan lehernya. Orang yang bungkuk sehingga seakan-akan ia dalam keadaan ruku’, maka disaat akan melakukan ruku’ hendaklah ia tundukkan lagi punggungnya dan lebih mendekatkan wajahnya ke tanah pada saat sujudnya sebisa mungkin.
  7. Orang yang tidak mampu memberikan isyarat dengan kepala saat sholatnya cukup baginya niat dan bacaan sholat.
  8. Sholat tidak gugur dari orang yang sakit selama akalnya masih ada dalam kondisi apapun dan bagaimanapun berdasarkan dalil-dalil yang telah lalu.
  9. Orang yang sakit dan di tengah-tengah sholatnya mampu untuk berdiri atau duduk atau ruku’ atau memberi isyarat yang sebelumnya ia tidak sanggup melakukannya, hendaklah ia melakukannya dan terus melanjutkan sholatnya.
  10. Orang yang ketiduran dari sholatnya atau lupa, hendaklah ia mengerjakannya saat terbangun dari tidurnya atau saat mengingatnya. Tidak boleh ia meninggalkannya sampai masuk waktunya untuk kemudian ia sholat di waktu tersebut. Dasarnya adalah sabda Nabi shollallahu’alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang tertidur dari sholatnya atau lupa, hendaklah ia mengerjakan sholat tersebut saat mengingatnya, tidak ada kaffarah baginya kecuali itu” (HR. Al Bukhori dan Muslim), dan beliau membacakan firman-Nya, “dan kerjakanlah sholat untuk mengingat-Ku” (QS. Thoha: 14).
  11. Tidak boleh meninggalkan sholat dalam kondisi apapun, wajib bagi orang yang mukallaf untuk lebih semangat dalam mengerjakan sholat pada saat sakitnya melebihi semangatnya saat sehat.
  12. Orang sakit selama akalnya masih baik tidak boleh meninggalkan sholat sampai keluar waktunya. Hendaklah ia mengerjakan sholat tersebut pada waktunya sesuai dengan kemampuannya. Sekelompok Ahlul Ilmi berpendapat, apabila ia sengaja meninggalkan sholat padahal akalnya sehat, paham hukum syar’i, mukallaf serta memiliki kekuatan untuk mengerjakannya meskipun dengan isyarat, maka dihukumi kafir berdasarkan sabda Nabi shollallahu’alaihi wa sallam, “Perjanjian (pembatas) antara kita dengan mereka adalah sholat, barangsiapa yang meninggalkannya maka telah kafir” (HR. Ibnu Majah dan At Tirmidzi), juga sabda Nabi, “Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad.” (HR. Ahmad dan At Tirmidzi).
  13. Orang sakit dan berat baginya mengerjakan setiap sholat pada waktunya, dibolehkan untuk menjamak sholat Dzuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya baik jamak takdim atau ta’khir sesuai dengan yang mudah baginya.

Pembaca yang di rahmati Allah. Demikianlah beberapa keadaan orang sakit dalam sholatnya, bermohon kepada Allah ta’ala untuk menyembuhkan orang-orang yang sakit dari kalangan kaum mukminin, menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan semoga Allah menganugerahkan kepada kita ampunan dan keselamatan dunia akherat.

Walhamdulillahi robbil’aalamin.

Oleh: Ustadz Abu Usaid Al Banyumasi, Lc

Sumber :

  1. http://www.binbaz.org.sa/article/323
  2. http://www.alukah.net/sharia/0/81694/#ixzz46QYNnkr2
2018-07-25T07:57:27+00:00 24 July 2018|Artikel Islam|Comments Off on SHOLAT BAGI ORANG YANG SAKIT