Nikmat itu, jangan engkau sia-siakan

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu agama ini dengan menariknya secara keseluruhan dari seluruh hamba. Namun Ia mengangkatnya dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika Allah tidak lagi menyisakan seorangpun ulama, orang-orang pun mengangkat pempimpin-pemimpinnya dari kalangan orang-orang bodoh (dalam agama). Pemimpin-pemimpin bodoh ini lantas ditanya (persoalan-persoalan agama), kemudian mereka berfatwa tanpa landasan ilmu, hingga merekapun sesat dan menyesatkan.”. (HR. Bukhari, 1/ 105)

 

Islam dan Ilmu

Agama dan ilmu adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Untuk mengamalkan agama secara benar, seorang dituntut untuk berilmu. Agar ilmu yang dimiliki bermanfaat dan tidak malah menjadi bumerang, maka seorang dituntut beramal dengan agama yang dimilikinya itu (beragama secara menyeluruh). Dan untuk mendakwahkan agama ini kepada orang lain, pun seorang harus memiliki ilmu agama.

Allah berfirman menunjuki kaum muslimin agar meminta petunjukNya kepada jalan yang benar, dan meminta perlindungan kepada Allah dari jalan orang-orang sesat dan orang-orang yang dimurkai;

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan mereka yang telah Engkau beri nikmat kepadanya. Bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”. (Al Faatihah; 6-7). Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata;

إن طريقة أهل الإيمان مشتملة على العلم بالحق والعمل به، واليهود فقدوا العمل، والنصارى فقدوا العلم؛ ولهذا كان الغضب لليهود، والضلال للنصارى، لأن من علم وترك استحق الغضب، بخلاف من لم يعلم. والنصارى لما كانوا قاصدين شيئًا لكنهم لا يهتدون إلى طريقه، لأنهم لم يأتوا الأمر من بابه، وهو اتباع الرسول الحق، ضلوا

“Sesungguhnya jalan yang ditempuh oleh orang beriman harus senantiasa diiringi dengan ilmu dan amal yang benar. Orang-orang yahudi tidak beramal dengan ilmunya, sedang orang-orang nashrani tidak melandaskan amalannya dengan ilmu yang benar. Olehnya, maka murka Allah ditimpakan kepada orang-orang yahudi. Sementara kesesatan disematkan kepada orang-orang nashrani. Barangsiapa yang tidak melaksanakan ilmu yang dimilikinya, sungguh berhak mendapat murka; merekalah orang-orang yahudi. Adapun orang-orang nashrani, ketika mereka ingin mendapatkan sesuatu tetapi tidak menempuh jalan yang benar, yaitu mengikuti jalannya Rasul yang benar; disaat itulah mereka menjadi sesat.”.(1/ 141).

Dalam berdakwah, Allah berfirman menunjuki jalan yang seharusnya ditempuh oleh kaum muslimin;

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah wahai Muhammad kepada kaummu, inilah jalan yang aku tempuh. Di jalan ini aku mengajak manusia ke jalan Allah berdasarkan ilmu. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku. Maha suci Allah, dan tidaklah aku masuk dalam golongan orang-orang yang musyrik.”. (Yusuf; 108)

 

Pilar-Pilar Dunia

Menelaah hadits tentang lenyapnya ilmu agama -sebagaimana yang telah disampaikan diawal bahasan- diketahui bahwa ilmu agama ini adalah rukun penting dari keberlangsungan hidup di dunia. Bila ilmu agama ini lenyap, maka lenyaplah ilmu yang Allah jadikan sebagai penuntun hidup di dunia. Dan ketika orang-orang sudah tidak lagi mengenali landasan hidupnya yang benar, maka saat itulah tatanan social akan porak-poranda dan bencana demi bencana akan datang silih berganti, hingga puncaknya ketika sangkakala telah ditiup. Disaat itu, kebenaran telah menjadi sesuatu yang sangat kabur oleh derasnya gelombang pemikiran dan syubhat para penebar kejahatan dan fitnah. Kebenaran dianggap kejahatan dan kejahatan diklaim sebagai kebaikan. Anas zberkata, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا

“Diantara tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu agama, merebaknya kebodohan (terhadap agama), khamar telah menjadi minuman legal, demikian juga zina telah menjadi fenomena yang biasa.”. (HR. Bukhari, 1/ 84). Deskripsi kerusakan yang terjadi pada saat itu, lebih detil digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits shahih karena beberapa syahidnya, yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; “Bilamana harta rampasan perang tidak lagi dibagikan kepada orang-orang yang berperang, namun dikuasai oleh negara; amanah diabaikan; zakat telah dianggap sebagai sebuah beban yang merugikan; ilmu dipelajari tidak untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala; seorang lelaki taat kepada istrinya dengan mendurhakai ibunya; berbuat baik kepada temannya dan berlaku kasar terhadap bapaknya; sebuah kaum dipimpin oleh seorang fasik dan hina; seorang lelaki dimuliakan -semata- karena ia ditakuti; bermunculan penyanyi-penyanyi wanita; alat-alat musik semakin banyak dimainkan; orang-orang telah menjadikan khamar sebagai minumannya; ummat yang datang belakangan melaknat para pendahulu mereka yang shaleh; ketika hal tersebut telah terjadi, tunggulah kedatangan adzab berupa angin merah, gempa bumi, pengubahan rupa dan turunnya hujan batu serta munculnya tanda-tanda kiamat lain secara berturut-turut. (HR. Tirmidzi, 4/ 495). Seluruh kerusakan yang diinformasikan dalam hadits ini, penyebab utamanya tiada lain adalah terangkatnya ilmu agama, ilmu yang sejatinya menjadi pedoman hidup seluruh manusia.

Lantas adakah pengusung ilmu agama ini melainkan para ulama ?. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris sekalian nabi. Dan sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham. Namun warisannya adalah ilmu agama. Maka barangsiapa yang mengambil warisan itu, sungguh ia telah mengambil bagiannya yang banyak.”. (HR. Abu Daud, 3/354). Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله ينفون عنه تحريف الغالين وانتحال المبطلين وتأويل الجاهلين

“Ilmu agama ini dari generasi ke generasi akan diemban oleh orang-orang terpercaya dan berintegrasi. Merekalah generasi yang akan menampik penyimpangan beragama yang dilakukan oleh kelompok yang berlebihan; menjawab syubhat kelompok yang berusaha membatalkan syari’at; dan membatalkan takwil salah yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak paham agama.”. (HR. Baihaqi, lihat di Misykaatu al Mashaabiih, 1/53) … Para ulama, mereka itulah pilar-pilar dunia ……

 

Awal Musibah

Lenyapnya ilmu agama, itulah awal dari puncak seluruh musibah. Lenyapnya ilmu agama secara utuh ditandai dengan wafatnya para ulama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; ” Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu agama ini dengan menariknya secara keseluruhan dari seluruh hamba. Namun Ia mengangkatnya dengan mewafatkan para ulama.”. Dengan wafatnya para ulama, maka bersamaan dengan itu, lenyap pula ilmu yang dibawanya.

Disamping itu, lenyapnya ilmu juga mungkin terjadi ketika para ulama diam dan enggan atau tidak berani tampil menyuarakan kebenaran dan ilmu yang mereka miliki. Padahal menyuarakan kebenaran dan ilmu, amar ma’ruf-nahi mungkar, adalah bagian yang sangat krusial dalam agama ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

“Agama itu adalah nasehat.”. (HR. Muslim 1/ 53). Allah berfirman;

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kalian adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, yaitu ketika kalian menyeru kepada kebaikan, melarang dari hal mungkar dan beriman kepada Allah.”. (Ali Imraan; 110). Allah berfirman tentang sebab terlaknatnya bani Israail;

كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”. (al Maaidah; 79). Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata;

إن العلم لا يهلك حتى يكون سرًا

“Tidaklah ilmu agama itu lenyap melainkan jika ia tersembunyi dan tidak dinampakkan.”. (Shahih al Bukhari, 1/104)

 

Berilah Saham Positif

Kewajiban mempelajari dan menyebarkan ilmu merupakan satu diantara pesan yang hendak disampaikan melalui hadits tentang lenyapnya ilmu, yang merupakan satu diantara tanda dekatnya hari kiamat.

Sebagai muslim, tentu tidak seorang pun menginginkan atau bahkan pernah berfikir menjadi satu dari mereka yang berkontribusi dalam proses lenyapnya ilmu agama ini. Meski demikian tidak sedikit dari mereka yang secara tidak sadar masuk dalam lingkaran proses tersebut, terbawa arus kekinian yang sarat dengan perkara-perkara samar dan menjebak.

Tuntutan ekonomi misalnya, tidak jarang dijadikan sebab oleh beberapa saudara kita yang telah Allah karuniai kesempatan dan kemampuan mempelajari agama secara khusus untuk beralih status dari seorang ustadz, da’I atau peneliti hukum agama menjadi seorang yang full menekuni bisnis atau full menggeluti profesi keduniaannya yang lain.

Tuntutan untuk selalu eksis dan menjadi yang terdepan dalam penilaian wilayah kerja tertentu. Terkadang membuat pimpinan sebuah perusahaan memporsir seluruh potensi yang dimiliki oleh pekerjanya, hingga tidak lagi tersisa waktu bagi mereka untuk belajar agama melainkan diselipan-selipan waktu istirahatnya.

Inilah beberapa hal yang terkadang tanpa atau kurang disadari dapat menjadi batu sandungan dari proses tetap eksisnya ilmu agama. Dan pemaparan ini, tidak sama sekali bertujuan untuk mengecilkan profesi keduniaan atau menyepelekan pentingnya profesionalisme kerja. Namun jangan sampai hal tersebut berimplikasi pada terhambat atau kurang maksimalnya kerja dan usaha kita untuk mempertahankan eksistensi ilmu agama, baik untuk pribadi ataupun untuk orang sekitar kita. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

من تعلم الرمي ثم نسيه فهي نعمة جحدها

“Barangsiapa yang lupa tekhnik memanah setelah dipelajari dan diketahuinya, sungguh hal itu adalah (bagian dari) nikmat yang diingkarinya.”. (HHR. Bazzar dan Thabraani, lihat di Shahih at Targhiib wa at Tarhiib, 2/ 48). Dipahami dari hadits ini bahwa bila saja melupakan tekhnik memanah digolongkan masuk dalam kategori kufur nikmat, maka bagaimanakah dengan mereka yang lupa akan ilmu agama yang telah dipelajarinya karena sibuk dengan urusan keduniaan ?!.

 

Manfaatkan dan Jangan Berikan Kepada Mereka

Perkembangan teknologi yang berjalan sangat pesat, sungguh telah menjadikan arus informasi sangat cepat bisa diakses oleh siapapun; dimana serta kapanpun mereka berada. Demikianlah ilmu agama yang benar, seharusnya turut terpublish dan mengalir bersama dengan derasnya aliran berbagai informasi lainnya.

Kalau dahulu, ilmu agama itu terpusat di masjid-masjid, pada majelis-mejelis ilmu di dalamnya. Kalau dahulu, jika majelis-majelis itu tidak dipandu oleh orang-orang terpercaya, niscaya akan dipandu oleh para perusak dan penebar syubhat; maka demikianlah di era globalisasi saat ini. Berbagai media informasi saat ini, seharusnya tidak boleh kosong dari orang-orang yang secara tekun menghiasinya dengan “qaala Allahu wa qaala Rasuluhu wa qaala as Shahaabah” (firman Allah, sabda Rasul, dan penjelasan serta hikmah-hikmah para sahabat dan para ulama).

Acara kerohanian di televise, seharusnya dipandu oleh para ulama; siaran kerohanian di radio, seharusnya dipandu oleh para ulama; grup-grup diskusi kerohanian di sosmed, seharusnya dipandu oleh para ulama; dan para ulama serta mereka yang memiliki pemahaman agama yang baik, seharusnya memiliki keterpanggilan untuk mengisi seluruh lini arus informasi itu dengan hal-hal positif dan bermanfaat.

Olehnya, Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah, dalam surat yang ditujukannya kepada Ibnu Hazm rahimahullah berkata –sebagaimana yang telah dinukil sebahagiaannya sebelum ini-;

انْظُرْ مَا كَانَ مِنْ حَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاكْتُبْهُ فَإِنِّي خِفْتُ دُرُوسَ الْعِلْمِ وَذَهَابَ الْعُلَمَاءِ وَلَا تَقْبَلْ إِلَّا حَدِيثَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلْتُفْشُوا الْعِلْمَ وَلْتَجْلِسُوا حَتَّى يُعَلَّمَ مَنْ لَا يَعْلَمُ فَإِنَّ الْعِلْمَ لَا يَهْلِكُ حَتَّى يَكُونَ سِرًّا

“Periksalah informasi yang sampai kepadamu dan pilih serta tulislah hadits Rasulullah `. Sungguh saya khawatir tergerusnya ilmu agama dan wafatnya para ulama. Jangan engkau terima melainkan hadits Rasulullah ` saja. Sebarlah ilmu agama ini dan duduklah mengajar, agar mereka yang tidak tahu agama menjadi tahu tentang agama mereka. Sesungguhnya ilmu agama tidaklah akan lenyap melainkan jika ia tersembunyi dan tidak dinampakkan.”. (Shahih al Bukhari, 1/104). Dan disaat ilmu agama ini telah tersembunyi, maka ketika itulah, “orang-orang akan mengambil informasi keagamaan dari nara sumber-nara sumber yang bodoh (dalam agama). Para nara sumber itu lantas berfatwa tanpa landasan ilmu, hingga merekapun sesat dan menyesatkan.”.

 

Penutup

Ilmu agama adalah nikmat besar yang Allah karuniakan kepada seorang. Para ulama yang merupakan pengusung-pengusung ilmu itu, –juga- adalah karunia agung yang Allah anugrahkan kepada seluruh alam. Olehnya, menjadi kewajiban seluruh pihak yang diberi nikmat dan keutamaan itu untuk bersyukur dengan sesungguhnya kepada Allah, yang telah mengaruniakannya;

*) Bagi yang telah diberi kemudahan untuk mempelajari dan mendalami agama ini, tetapkanlah hati dan kokohkan jiwa untuk menempuh sebaik-baik jalan yang telah ditempuh oleh generasi-generasi terbaik, “Sebaik-baik kalian adalah mereka yang belajar dan mengajarkan al Quran.”. Rabi’ah berkata;

لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ عِنْدَهُ شَيْءٌ مِنْ الْعِلْمِ أَنْ يُضَيِّعَ نَفْسَهُ

“Tidak seharusnya seorang yang telah dikaruniai sebagian dari ilmu agama ini, lantas menyia-nyiakan dirinya.”. (Shahih al Bukhari, 1/ 84). Mengomentari pernyataan Beliau, al Hafidzh berkata;

وَمُرَاد رَبِيعَة أَنَّ مَنْ كَانَ فِيهِ فَهْم وَقَابِلِيَّة لِلْعِلْمِ لَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُهْمِل نَفْسه فَيَتْرُك الِاشْتِغَال به ، لِئَلَّا يُؤَدِّي ذَلِكَ إِلَى رَفْع الْعِلْم

“Maksud dari pernyataan Rabi’ah, barangsiapa yang memiliki kemampuan untuk mempelajari dan memahami agama secara (lebih) baik, maka tidak sepantasnya ia menyia-nyiakan dirinya dengan meninggalkan kesibukan yang terkait dengan ilmu (dan beralih pada kegiatan-kegiatan lainnya). Fokus yang dituntut atasnya ini bertujuan agar kegiatan-kegiatannya yang lain tersebut tidak menjadi sebab lenyapnya ilmu (yang dimilikinya).”. (Fathul Baari, 1/ 131)

*) Bagi masyarakat awwam, yang memiliki keterbatasan ilmu agama, hendaknya mereka giat menuntut ilmu agama dari para ulama dan membantu para ulama, serta mendukung mereka agar tetap dapat focus dengan amanah yang mereka emban.

Pada akhirnya, semoga Allah menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba Nya yang senantiasa bersyukur. Dengan itu, semoga Ia berkenan menambahkan nikmat Nya kepada kita. Dan menjauhkan kita dan anak cucu kita dari segala fitnah yang membinasakan.

 

Referensi :

  1. Al Quran al Kariim
  2. Tafsiiru al Quran al ‘Adzhiim, oleh Imam Ismail bin Umar bin Katsiir.
  3. Al Jaami’e Al Musnad As Shahiih, oleh Imam Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al Bukhari.
  4. Al Jaami’u as Shahiih, oleh Abu al Husain Muslim bin Hajjaaj
  5. Al Jaami’e as Shahiih Sunan at Tirmidzi, oleh imam Muhammad bin ‘Isa at Tirmidzi
  6. Sunan Abi Daud, oleh Imam Sulaiman bin al Asy’ats Abu Daud as Sajastaani al Azdiy
  7. Misykaatu al Mashaabiih, oleh Muhammad bin Abdillah al Khathiib al ‘Umary, dengan pentahqiiq yaitu Muhammad Nashiruddin al Baani.
  8. Shahiih at Targhiib wa at Tarhiib, syaikh Muhammad Nashiruddin al Baani
  9. Fathul Baari, oleh al Haafidzh Ahmad bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar al ‘Asqalaani.

 

 

2019-03-07T06:05:54+00:00 2 March 2019|Artikel Islam|Comments Off on Nikmat itu, jangan engkau sia-siakan
Kontak kami