Muda Mendunia

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ  …

“Tujuh orang yang akan dilindungi oleh Allah pada hari yang tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya, (yaitu) pemimpin yang adil dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah … [Muttafqun alaihi].

 

Kenalilah Dirimu Wahai Pemuda

Pemuda adalah sosok yang identik dengan jiwa yang penuh semangat, optimisme, percaya diri, penuh energi, penuh impian dan cita-cita. Pemuda di setiap zaman dan ruang merupakan ujung tombak yang memiliki peran dan andil besar dalam sebuah peradaban.

Olehnya, sosok itu selalu saja menjadi incaran bagi seluruh kalangan dengan berbagai kepentingannya. Tidak ketinggalan para musuh agama, selalu saja mencari celah untuk dapat merekrut para pemuda guna memuluskan syahwat biadab mereka, meruntuhkan peradaban sebuah bangsa.

Para musuh kemanusiaan selalu berusaha merusak kepribadian pemuda Islam. Mereka selalu membuat makar untuk menjerumuskan para pemuda ke jurang kebinasaan. Mereka menyediakan berbagai fasilitas yang dapat menjerumuskan kepada syahwat untuk merusak akhlak pemuda Islam, seperti obat-obat terlarang untuk merusak akal sekaligus badan. Berbagai event dan kontes mereka selenggarakan. Event dan kontes yang dipenuhi dengan gaya hidup hura-hura, glamour, dan jauh dari nilai adab serta kesantunan. Mereka menampilkan berbagai tayangan yang menguras masa-masa produktif para pemuda, mematikan akal dan naluri sehat, serta mengebiri potensi positif yang dimiliki oleh para pemuda. Bahkan para musuh Islam menyusup melalui pendidikan dengan cara memasukkan pelajaran yang tidak sesuai dengan nilai dan norma-norma yang diajarkan Islam. Pelajaran yang mengandung kemaksiatan, bahkan kekufuran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikianlah makar dan tipu daya musuh untuk menghancurkan kaum muslimin, yang diawali dengan merusak para pemudanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ

“Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Rabbmu. [al-Baqarah/2 : 105]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, mengingatkan kaum muslimin terhadap makar dan tipu daya orang-orang kafir yang begitu massif menyasar mereka ;

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُون

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan.”. [al-Anfâl/8 : 36].

Olehnya, seorang pemuda hendaknya menyadari secara benar hakikat dirinya, peranan serta betapa mereka menjadi sasaran bidik berbagai kalangan. Mereka adalah salah satu pilar terpenting bagi maju dan mundurnya sebuah bangsa. Jika pemudanya memiliki jiwa yang maju, jiwa besar, dan jiwa kepemimpinan, maka bangsa itu akan maju, besar dan mampu memimpin peradaban dunia. Sebaliknya, jika pemudanya menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, apalagi bertentangan dengan nilai-nilai agama, seperti mabuk-mabukan, tawuran, pornografi, dan pornoaksi, maka masa depan bangsa itu akanlah suram.

 

Ingin Tahu, Mencari Sensasi dan Jati Diri

Mengawali tahapan hidup sebagai seorang pemuda, banyak rasa yang biasanya bergelayut dalam sanubari mereka; penasaran, ingin tahu, mencari jati diri, mendapat perhatian lebih dan mencari sensasi. Begitulah biasanya yang dialami oleh seorang menginjak awal masa pemudanya.

Perasaan demikian adalah hal yang wajar dengan mempertimbangkan usia dan tingkat kedewasaan berfikir mereka. Namun hal yang sangat penting diwaspadai bahwa pada titik inilah tingkat kerawanan dalam proses pembentukan karakter dan kepribadian. Dan sangat banyak pemuda yang akhirnya jatuh tersungkur pada titik ini. Pada akhirnya, mereka lebih memilih bersenang-senang di tempat-tempat hiburan dari pada nongkrongin tugas sekolah; mereka rela bahkan sangat antusias duduk berjam-jam menonton tayangan hiburan daripada duduk setengah jam saja mendengar nasehat atau pelajaran di kelas, dan fenomena lain yang semisal. Belum lagi bila berbicara masalah ibadah, “entar dulu dah”, kata sebagian mereka. Hingga kemudian muncullah slogan dikalangan mereka, “muda foya-foya, mati masuk surga”.

Nah mengingat hal ini, maka menjadi hal yang sangat luar biasa, jika ternyata ada sosok pemuda yang mampu memanage secara baik seluruh rasa yang menggelayut dalam sanubarinya pada usia mereka yang sangat labil tersebut. Mereka mampu mengarahkan potensinya untuk pengembangan diri dan karakter serta tidak tertipu dengan gaya hidup glamour yang disodorkan kepadanya oleh mereka yang ingin memuaskan syahwat biadabnya, menghancurkan peradaban manusia.

Pemuda dengan karakter seperti ini, lebih senang menghabiskan waktunya untuk membaca dan diskusi daripada ngumpul-ngumpul gak jelas mendata orang yang lalu lalang di emperan-emperan mal dan pusat-pusat perbelanjaan. Mereka sabar duduk berjam-jam di majelis ilmu daripada menghadiri konser-konser music. Mereka adalah turunan dari sosok pemuda Ashhabul kahfi, yaitu sekelompok anak muda yang memiliki integritas moral (iman). Tentang mereka, Allah berfirman;

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS al-Kahfi [18]: 13).

Pemuda dengan karakter seperti mereka adalah sosok pemimpin masa depan. Mereka adalah generasi yang diharapkan dapat memainkan peran dari sosok-sosok pemuda fenomenal di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; Mush’ab bin Umair, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan yang lainnya. Mereka adalah representasi dari sosok pemimpin muda yang berjaya di Andalusia, Abdurrahman an-Nashir dari Dinasti Umayyah, naik takhta pada usia 22 tahun. Pada masanya, Andalusia mencapai puncak keemasannya. Mereka adalah representasi dari sosok Muhammad al-Fatih. Beliau adalah putra Sultan Murad II. Beliau telah diikutsertakan dalam berbagai peperangan yang dilakukan Turki Utsmani sejak usia belasan tahun. Beliau mendapat pendidikan Alquran di bawah bimbingan ulama ternama zaman itu, Syekh Ahmad bin Ismail al-Kurani. Sultan Murad II juga meminta para ulama lain mengajarkan ilmu hadis, fikih, kemiliteran, sejarah, tata bahasa, dan sejumlah ilmu modern kepada putranya itu. Beliau naik takhta pada usia 21 tahun, kemudian berhasil menaklukkan Konstantinopel pada usia 23 tahun.

Mereka adalah sosok muda namun mendunia. Mereka adalah pemuda yang diberi pemahaman mendalam tentang tujuan hakiki dari kehidupan yang mereka jalani, yaitu beribadah kepada Allah. Mereka adalah pemuda yang dituntun untuk dapat menjalani kehidupan ini di atas tujuan hidup yang telah mereka pahami tersebut. Mereka adalah sosok yang sangat special dan sangat pantas mendapatkan aprsiasi special dari Allah, Dzat Yang Maha Bijaksana. Mereka itulah sosok, yang Allah gembirakan melalui lisan Rasul Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tujuh orang yang akan dilindungi oleh Allah pada hari yang tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya, (satu diantara mereka adalah) seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah … [Muttafqun alaihi].

Pada akhirnya, sebuah harapan kepada Allah, Semoga Ia senantiasa menuntun para pemuda muslim dalam kebaikan dan menjadikan mereka sebagai sosok muda namun mendunia; sosok yang mampu membawa keberkahan bagi alam semesta. Wallahul haadi ilaa sabiilir rasyaad.

2019-02-12T08:20:33+00:00 7 February 2019|Artikel Islam|Comments Off on Muda Mendunia
× Kontak kami