Hijrah dan Perubahan

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Aash radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

“Orang muslim itu adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.”[1].

 

Muslim Paripurna

Dalam hadits ini (hadits Abdullah bin ‘Amr), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin menggambarkan kepada kita tentang hal ideal yang seharusnya menjadi ciri dasar seorang yang beriman kepada Allah dan beriman kepada Rasul Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perlu diketahui bahwa kata islam meski mengandung makna berbeda dengan kata iman, namun bila kedua kata itu disebutkan secara tersendiri dalam sebuah kalimat atau pernyataan; maka keduanya adalah kata yang bersinonim.

Olehnya maka sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

  الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Orang muslim itu adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”, kiranya dapat ditafsirkan dengan

المُؤْمِنُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Orang beriman itu adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”.

Maka dari ulasan tadi disimpulkan bahwa maksud dari penyebutan “muslim” dalam hadits ini adalah muslim paripurna (mukmin); selain membawa dasar keimanan kepada Allah, pun hadir dalam lingkungannya dengan implementasi keimanan itu secara faktual.

 

Muslim Paripurna Rahmatan Lil ‘Aalamiin

Sebaik-baik teladan bagi seorang muslim adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka jika seorang mendambakan hidup sebagai seorang muslim yang paripurna, hendaknya ia jadikan sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutannya. Allah berfirman,

{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا}

“Sungguh telah ada suri tauladan baik pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi mereka yang menginginkan perjumpaan dengan Allah dan menginginkan kebaikan di hari akhirat, serta senantiasa mengingat Allah.”[2].

Bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaktualkan dirinya dalam keseharian ? Allah berfirman,

{وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ}

“Dan tidaklah Kami mengutusmu wahai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”[3]. Demikianlah kiranya misi yang diemban oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “menjadi rahmat” bagi seluruh alam.

Olehnya, maka sangat wajar jika Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut dalam hadits Abdullah bin ‘Amr ini, bahwa salah satu ciri mendasar yang dimiliki oleh muslim paripurna adalah tidak menyakiti manusia secara umum, dan saudara semuslim secara khusus. Sebaliknya, mereka adalah sosok yang “menyenangkan”, sopan dalam bertutur dan santun dalam bertindak.

 

Hijrah dan Muslim Paripurna

Dalam potongan kedua dari hadits Abdullah bin ‘Amr ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyinggung tentang hijrah. Secara bahasa, kata hijrah berasal dari akar kata هـ جـ ر yang mengandung beberapa arti, salah satunya adalah memutuskan. Misalnya seseorang hijrah meninggalkan kampung halamannya menuju kampung lainnya. Ini berarti ia memutuskan hubungan antara dirinya dengan kampungnya[4].

Jika demikian, maka hijrah sangatlah identik dengan perubahan. Sebab orang yang berpindah dari satu tempat atau satu keadaan ke tempat atau keadaan yang baru tentulah akan mengalami perubahan.

Hal inilah yang kiranya menjadi inti dari syari’at berhijrah, yaitu “Perubahan ke arah yang lebih baik.”. Mari kita cermati hijrah pertama kaum muslimin, dari Mekkah ke negeri Habasyah. Selanjutnya, hijrah ke-2, dari Mekkah ke Madinah. Adakah perpindahan mereka itu sekedar untuk mencari suasana baru dan kehidupan yang lebih mapan secara duniawi ?!. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْه

“Barangsiapa yang hijrah dalam rangka ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu akan dinilai sebagai sebuah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya (dan Allah lah yang akan membalasnya). Namun barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ingin diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hasil dari hijrahnya adalah seperti yang diniatkannya.”[5].

Dari hadits ini disimpulkan bahwa hijrah dalam term Islam bukanlah semata-mata perpindahan yang bertujuan untuk mendapatkan maslahat duniawi, seperti halnya transmigrasi atau urbanisasi. Tidak demikian, tetapi hijrah yang dimaksud adalah perpindahan dari satu tempat atau keadaan ke tempat atau keadaan lain yang lebih baik dan lebih menunjang seseorang untuk lebih taat kepada Allah ta’aala.

Syari’at berperpindahan (hijrah) dari satu tempat (yang tidak memungkinkan seorang untuk beribadah secara baik) ke tempat lain (yang lebih memberinya keluasan untuk itu), dinyatakan lewat hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu.

Adapun syari’at hijrah dari keadaan buruk (maksiat) kepada ketaatan, hal itulah yang dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abdullah bin ‘Amr,

    وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

 “Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.”

Dan kedua jenis hijrah ini bermuara pada satu tujuan yaitu menjadi muslim paripurna, yang lebih mampu mengkondisikan diri agar lebih dekat dan taat kepada Allah tabaraka wa ta’aala.

 

Harapan

Mengawali tahun hijriah 1440 ini, besar keinginan dan harapan kita semoga Allah berkenan memberi taufik Nya kepada kita agar mampu menjadi hamba yang lebih taat kepada Nya; memberi kekuatan kepada kita agar mampu mengisi hari-hari di tahun ini dengan amalan-amalan yang lebih baik dan bermanfaat; memberi kekuatan kepada kita agar mampu berhijrah kepada kehidupan yang lebih baik; memberi kemudahan kepada kita agar mampu menjadi muslim paripurna.

 

Kesimpulan

  1. Hijrah dalam term Islam adalah perpindahan dari satu tempat atau keadaan ke tempat atau keadaan lain yang lebih baik dan lebih menunjang seseorang untuk lebih taat kepada Allah ta’aala.
  2. Hijrah dalam term Islam terbagai dua, yaitu: hijrah dengan badan (dengan meninggalkan satu tempat ke tempat yang lain), dan hijrah dengan hati (dengan meninggalkan sebuah kemaksiatan kepada ketaatan)[6].
  3. Hijrah dan perubahan ke arah yang positif adalah dua hal yang identik dan tidak terpisahkan (sebab dan akibat).
  4. Muslim paripurna adalah muslim yang senantiasa memiliki kesiapan untuk melakukan hijrah, demi terwujudnya risalah yang diemban oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai rahmat bagi seluruh alam.

 

Wallahu a’lam bi as shawaab

 

[1] HR. Bukhari, bab “al Muslim man salima al muslimuuna min lisaanihi wa yadihi”.

[2] Al Quran, surah al Ahzaab, ayat 21)

[3] Al Quran, surah al Anbiyaa’, ayat 107

[4] Lihat “Mukhtaaru as shihaah”, pada term هـ جـ ر

[5] HR. Bukhari, Bab “Maa jaa inna al a’maala bi anniyyati wal hisbah, wal likulli imri in maa nawaa”; dan HR. Muslim, Bab “Qaulihi innama al a’maalu bi anniyati”.

[6] Lihat “Zaadu al Muhaajir”, Fashl “Fil hijrati ilaallaahi wa rasuulihi”

2018-09-10T21:33:40+00:00 10 September 2018|Artikel Islam|Comments Off on Hijrah dan Perubahan