FIQIH BERCANDA

Segala perbuatan harus memiliki aturan sehingga sesuai dengan syari’at. Kapan saja suatu amalan/perbuatan tidak memiliki aturan maka terlarang. Betapa banyak orang yang lalai dari aturan-aturan tersebut sehigga ia terjatuh dalam larangan tanpa sadar. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan tanpa ada perintah dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim)

Diantara amalan yang harus diatur dengan aturan-aturan syar’i adalah Mizah (bercanda) yang banyak terjadi dan sedikit sekali orang yang mengaturnya dan membatasainya dengan aturan syar’i.

Mizah (bercanda/bergurau) adalah wasilah atau sarana untuk mendapatkan kesenangan. Bercanda bisa mendatangkan beberapa faidah diantaranya; dapat memberikan rasa gembira kepada teman, menghilangkan rasa kesendirian dan kesepian, mengakrabkan, melembutkan hati, menghilangkan rasa takut, marah dan stress. Disamping itu berguarau juga bisa menghilangkan kejemuan dan kebosanan.

Kalau kita menilik kehidupan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya, maka akan kita temukan riwayat-riwayat bagaiman Rasul dan para sahabatnya terkadang juga bergurau satu dengan yang lainnya. Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunannya dari hadits Anas;
“Sungguh, ada seorang lelaki meminta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebuah kendaraan untuk dinaiki. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, ‘Aku akan memberimu kendaraan berupa anak unta.’ Orang itu (heran) lalu berkata, ‘Apa yang bisa saya perbuat dengan anak unta itu?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bukankah unta betina itu tidak melahirkan selain unta (juga)?’.”(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Walhasil, bercanda dan bergurau asalnya adalah perkara yang mubah dan boleh asalnya di lakukan dengan porsi yang tepat, pada waktu yang tepat dan tidak melanggar norma-norma agama. Bergurau pada waktu kita memang membutuhkannya, namun tetap tegas dan serius pada tempat yang memang menuntut kita untuk itu.

Ibnu Umar pernah ditanya, “Apakah dahulu para sahabat suka tertawa? Beliau menjawab, “Ya, akan tetapi iman dalam hati mereka seperti gunung”.

Bilal bin Sa’ad berkata, “Aku mendapatkan para sahabat adalah orang yang tegas dalam masalah kehormatan, namun sebagian mereka juga tertawa dengan yang lainnya, dan apabila malam telah datang maka mereka menjadi ahli ibadah”.

Agar bergurau dan canda mendatangkan manfaat, tidak melanggar norma dan etika agama serta tidak menimbulkan dosa, berikut kami sebutkan beberapa batasan fiqih dalam bercanda;

1. Tidak bercanda dengan cara memperolok-olok agama

Tidak boleh menjadikan agama dan syiar-syiarnya sebagai bahan bercanda. Sebagaimana tidak boleh menjadikan ayat-ayat Allah dan hadits Rasulullah sebagai candaan dan gurauan. Perbuatan ini dikategorikan sebagai pembatal keislaman. Allah berfirman;

{وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ} [التوبة: 65، 66]

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman” (At Taubah: 65-66)

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Memperolok-olok Allah, ayat-ayatNya dan Rasul-Nya adalah kekufuran, yang mana pelakunya dihukumi kafir sesudah beriman”.

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu berkata, “Barangsiapa yang berbuat dosa sambil tertawa, maka ia akan masuk neraka sambil menangis”.

Termasuk dalam larangan ini adalah memperolok-olok sunnah meskipun hanya sekedar bercanda, seperti memperolok-olok orang yang tidak isbal, memanjangkan jenggot, atau wanita yang bercadar, atau bermain-main dengan hukum-hukum syar’i yang lain.

2. Tidak berdusta dalam bercanda

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ، وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah orang yang bercerita lalu berdusta untuk membuat tawa manusia, celakalah ia, celakalah ia.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan al-Hakim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Sesungguhnya saya bercanda dan saya tidaklah mengatakan selain kebenaran.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Kabir)

3. Tidak boleh menghina, merendahkan dan mengejek orang lain

Menghina orang lain atau mengejeknya meskipun hanya sebatas bercanda merupakan perbuatan haram bahkan dikategorikan dosa besar. Seperti mengejek nama, postur tubuh, kekurangan fisik, sifat dan lainnya. Allah berfirman:

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ} [الحجرات: 11]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim” (Al Hujuroot: 11)

4. Tidak menakut-nakuti saudaranya

Seorang muslim hendaklah selalu menciptakan suasana yang tenang, nyaman dan kondusif. Namun terkadang karena kebodohannya, ia pun berbuat iseng dan bercanda yang tidak tepat, yaitu dengan cara menakut-nakuti kawan dan saudaranya yang lain. Modusnya beragam, ada yang membuat-buat pocongan, suara-suara yang menyeramkan atau modus-modus lainnya. Perbuatan konyol dan keterlaluan ini berbahaya karena bisa meninggalkan trauma pada si korban.

Abu Dawud dalam Sunannya meriwayatkan dari Abu Laila, ia berkata; “Para sahabat Rasul telah menceritakan kepada kami, bahwa mereka pernah berjalan di malam hari bersama Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Lalu tatkala salah seorang dari mereka tertidur, sebagian dari mereka beranjak kepadanya dan mengambil talinya, sehingga ia pun ketakutan. Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain” (HR. Abu Dawud)

5. Tidak mengacungkan/menodongkan senjata

Hal lain yang perlu diperhatikan saat bercanda adalah tidak bolehnya bercanda dengan mengacungkan/menodongkan senjata kepada teman kita. Ini sangat berbahaya karena bisa jadi syaitan merebut tangan kita dan akhirnya senjata tersebut melukai atau bahkan membunuh.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah salah seorang kalian menunjuk kepada saudaranya dengan senjata, karena dia tidak tahu, bisa jadi setan mencabut dari tangannya, lalu dia terjerumus ke dalam neraka.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

6. Mengambil harta orang lain sambil bercanda

Kalau mengambil harta secara serius maka dinamakan pencurian. Adapun mengambil harta secara bercanda maka ini perbuatan yang tidak ada manfaatnya bahkan bisa menimbulkan kejengkelan dan permusuhan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

لَا يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ صَاحِبِهِ لَاعِبًا وَلَا جَادًّا وَإِنْ أَخَذَ عَصَا صَاحِبِهِ فَلْيَرُدَّهَا عَلَيْهِ

“Janganlah salah seorang kalian mengambil barang temannya (baik) bermain-main maupun serius. Meskipun ia mengambil tongkat temannya, hendaknya ia kembalikan kepadanya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi).

7. Tidak berlebih lebihan dalam bercanda

Dibolehkannya bercanda adalah dalam rangka mengganti suasana, menghilangkan kejemuan dan kebosanan. Oleh karena itu, tidak boleh berlebih-lebihan dalam bercanda sehingga waktu kita habis dan terbuang hanya untuk tertawa dan tertawa. Apalagi kalau dibarengai dengan tawa terbahak-bahak, maka ini tidak boleh.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kita sering tertawa sebagaimana sabdanya:

لاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيْتُ الْقَلْبَ

“Janganlah engkau sering tertawa, karena sering tertawa akan mematikan hati.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3400)

Demikianlah beberapa aturan yang harus kita perhatikan saat kita ingin bercanda dan bergurau. Wallahu’alam.

 

 

Penulis : Agung Wahyu Adhy, Lc

 

___________

Sumber: http://www.saaid.net/arabic/ar27.htm
Al Mizah Bainal Masyru’ wal Mamnu’- Abu Muhammad Al Hijazi
(dengan penyesuaian)

2018-07-29T11:02:12+00:00 29 July 2018|Artikel Islam|Comments Off on FIQIH BERCANDA