Diantara pertanyaan soal nishfu Sya’ban

Pertanyaan I :

Assalamu’alaikum ustadz, mohon bantuan apakah hadist berikut benar ; redaksi dan validitasnya ?.

إِنَّ اللهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala akan turun memperhatikan para hamba-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa seluruh makhluk-Nya (hamba-Nya) kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan” (H.R. Ibnu Majah, no. 1390, lihat juga Ash-Shahihah, no. 1144).

 

Jawab :

Sanad hadits ini diperselisihkan para ulama. Diantara ulama kontemporer yang menghasankannya adalah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Baani dan Syaikh Syuaib Al Arnauuth rahimahumallah.

Hadits ini menjelaskan keutamaan malam tersebut bagi mereka yang membersihkan hatinya dari segala bentuk permusahan dan pertikaian dengan saudaranya semuslim.

Hadits ini secara tersirat berisi anjuran untuk memasuki Ramadhan dengan hati yang bersih ;

*) baik dalam interaksi manusia dengan Allah, yaitu dengan meninggalkan praktek-praktek kemusyrikan dan dengan banyak berpuasa pada bulan ini;

*) dan dalam interaksi mereka dengan sesamanya, yaitu dengan menyudahi segala bentuk pertikaian dengan sesama pada malam tersebut untuk meraih keutamaan yang dijanjikan oleh Allah, yaitu : “Allah akan mengampuni dosa-dosa seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”.

Hadits ini tidak menunjukkan anjuran untuk membuat ibadah khusus pada malam tersebut. Namun barangsiapa yang ingin memanfaatkan moment tersebut dengan melaksanakan shalat malam di rumahnya, maka hal itu adalah baik. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

وَأَمَّا لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَفِيهَا فَضْلٌ، وَكَانَ فِي السَّلَفِ مَنْ يُصَلِّي فِيهَا، لَكِنَّ الِاجْتِمَاعَ فِيهَا لِإِحْيَائِهَا فِي الْمَسَاجِدِ بِدْعَةٌ

“Adapun malam nishfu (pertengahan) Sya’ban, maka malam itu memiliki keutamaan. Diantara ulama salaf ada yang melaksanakan shalat (di rumahnya). Namun, berkumpul di masjid untuk menghidupkannya (dengan melaksanakan shalat nishfu sya’ban) bukanlah perkara yang ada tuntunannya.”. (Al Fatawa Al Kubro, 5/344)

 

Pertanyaan II :

Di dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhoriy, Muslim dan yang lainnya disebutkan bahwa Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk berpuasa di pertengahan sya’ban (nisfu sya’ban):

رُوِىَ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ لَهُ – «أَصُمْتَ مِنْ سُرَرِ شَعْبَانَ؟» قَالَ: لَا، قَالَ: «فَإِذَا أَفْطَرْتَ، فَصُمْ يَوْمَيْنِ

Artinya: “Diriwayatkan dari ‘Imron bin Husein bahwa Rosulullah bertanya kepadanya: apakah engkau berpuasa pada “surar” (pertengahan) sya’ban?, dia menjawab: tidak, maka Rosulullah bersabda: apabila kamu tidak berpuasa maka berpuasalah dua hari” (HR. Bukhori dan Muslim)

 

Jawab :

Hadits ini diantaranya diriwayatkan oleh imam Bukhari dan imam Muslim.

Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam : “surari sya’ban”, dalam penafsirannya ulama berbeda pendapat;

*) Diantara mereka ada yang berkata : pertengahan bulan Syaban

*) Diantara mereka ada yang berkata : akhir bulan Syaban

 

Dalam penjelasan hadits ini ulama juga berbeda pendapat;

*) Diantara mereka ada yang berkata bahwa kemungkinan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyatakan hadits ini kepada seorang yang memiliki puasa nadzar pada dua hari di bulan sya’ban itu (pertengahan atau akhirnya), lantas mereka tidak menunaikannya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun menyuruhnya untuk mengqadhanya pada dua hari yang lain.

*) Diantara mereka ada yang berkata bahwa hadits ini berisi anjuran untuk melaksanakan puasa tiga hari di pertengahan setiap bulan. Maka kemungkinan hadits ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam nyatakan kepada seorang yang sudah terbiasa melaksanakan puasa tiga hari dipertengahan bulan, lantas ia luput dari dua hari itu di bulan Sya’ban. Maka Rasulullah menyatakan boleh baginya mengganti yang luput itu pada hari yang lain. Karena disunnahkan bagi mereka yang telah terbiasa dengan sebuah kebaikan untuk terus melaksanakannya dan tidak meninggalkannya.

*) Dan ada beberapa pendapat lainnya.

 

Meski hadits ini secara khusus menyebutkan waktu tertentu dari bulan Sya’ban (pertengahan atau akhirnya) ; namun para ulama menjadikannya sebagai dalil yang bersifat umum ;

*) Diantaranya ada yang menjadikannya sebagai dalil disyariatkannya berpuasa tiga hari di pertengahan setiap bulan

*) Diantara mereka ada yang menjadikannya sebagai dalil disyariatkannya berpuasa pada akhir setiap bulan. Diantaranya adalah imam Bukhari, Beliau mengangkat hadits ini dalam sebuah bab dalam kitab shahihnya dengan judul :

باب الصوم آخر الشهر

“Bab Puasa (Sunnah) di Akhir Bulan.”.

 

Kesimpulan

Hadits ini tidak digunakan oleh ulama sebagai dalil disunnahkannya secara khusus berpuasa di pertengahan bulan Sya’ban

 

Wallahu a’lam bis shawaab.

 

Pertanyaan III :

Di hadis yang lain Imam Baihaqiy meriwayatkan kisah kekhususan malam nisfu sya’ban yang diungkapkan Rosulullah kepada ‘Aisyah:

“Dari ‘Ala’ bin Charits bahwa Aisyah berkata: “Rasulullah bangun di tengan malam kemudian beliau salat, kemudian sujud sangat lama, sampai saya menyangka bahwa beliau wafat. Setelah itu saya bangun dan saya gerakkan kaki Nabi dan ternyata masih bergerak. Kemudian Rasul bangkit dari sujudnya setelah selesai melakukan shalatnya, Nabi berkata “Wahai Aisyah, apakah kamu mengira Aku berkhianat padamu?”, saya berkata “Demi Allah, tidak, wahai Rasul, saya mengira engkau telah tiada karena sujud terlalu lama.” Rasul bersabda “Tahukauh kamu malam apa sekang ini?” Saya menjawab “Allah dan Rasulnya yang lebih tahu”. Rasulullah bersabda “ini adalah malam Nishfu Sya’ban, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memperhatikan hamba-hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, Allah akan mengampuni orang-orang yang meminta ampunan, mengasihi orang-orang yang meminta dikasihani, dan Allah tidak akan memprioritaskan orang-orang yang pendendam”.

(HR Al Baihaqi fi Syuab Al Iman no 3675, menurutnya hadits ini Mursal yang baik)

Benarkah hadits di atas ?

 

Jawab :

Hadits ini mursal karena ‘Ala’ tidak mendengar hadits ini dari Aisyah. Hadits ini dinyatakan dhaif oleh syaikh Muhammad Nashiruddin Al Baani rahimahumallah di dalam dhaif At Targhib wa At Tarhiib. Tentang perihal ” ‘Ala’ “, Syaikh Al Baani berkata menukil dari “At Taqriib” bahwa Beliau adalah perawi yang hafalannya ‘ikhtalatha’ (bercampur atau tidak kuat).

2019-04-11T07:19:05+00:00 10 April 2019|Artikel Islam|Comments Off on Diantara pertanyaan soal nishfu Sya’ban
Kontak kami