Catatan Dari Kunjungan Ketua MPR RI

Pada 18 maret 2019, Al Binaa Islamic Boarding School kedatangan tamu penting yaitu ketua MPR RI, Dr. H Zulkifli Hasan, S.E, M.M.

Beliau berkunjung dan menyampaikan kuliah umum dengan tema ‘Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan’. Ruang Serba Guna I Al Binaa penuh sesak dengan kehadiran para tamu dari Puldapii, aparatur sipil daerah, para ustadz albinaa dan para santri .

Alhamdulillah para peserta kuliah umum sangat antusias dengan kehadiran dan kuliah yang Beliau sampaikan. Demikian sebaliknya, Beliau pun sangat gembira dan bersyukur melihat Al Binaa dengan seluruh fasilitas dan civitas yang Beliau harapkan ke depan akan menjadi mujahid-mujahid pembela agama.

Mengawali kuliahnya, Beliau bersyukur kepada Allah atas kesempatan dapat bersilaturrahim kepada para ‘alim. Beliau berkata, kalau pintar itu banyak tapi ‘alim itu tidaklah banyak.

Selanjutnya, Beliau menyampaikan tiga point utama ;

Point yang Pertama, Beliau berbagi cerita tentang diri Beliau. Kurang lebih yang Beliau sampaikan adalah;

“Wahai anak-anakku bersyukurlah kalian bisa bersekolah di Al Binaa. Saya rasa pondok ini adalah pesantren terbaik yang ada di Indonesia, “Allahu Akbar” {gemuruh takbir para audien}.

Saya dari pelosok desa. Usia lima tahun saya diajarkan membaca Al-Qur’an oleh orang tua saya. Kata ayah saya, “Kalau kamu bisa ngaji di usia 5-6 tahun, maka ketika besar nanti kamu akan pintar berbicara. Orang tua saya mewajibkan saya untuk bangun melakasanakan shalat subuh berjama’ah.

Setelah shalat subuh, untuk memberi motivasi, saya diperdengarkan ceramah Buya Hamka. Saya dididik dan dimotivasi terus oleh ayah saya. Kata ayah saya, “Bapak boleh begini, tapi kamu sebagai anak bapak, tidak boleh seperti bapak. Kamu harus bisa lebih baik dan lebih hebat dari bapak.”.

Kemudian saya masuk madrasah. Kelasnya ada enam sedangkan gurunya hanya tiga orang. Guru berpindah dari satu kelas ke kelas lain untuk dapat mengawasi jalannya pelajaran di semua kelas. Semua serba terbatas, kalau hujan maka kelas bocor. Ada murid yang tidak memakai baju ketika sekolah dan bahkan ada murid yang tidak memakai alas kaki.

Para santri -kata Beliau-, maksud saya menceritakan ini agar kalian tahu bahwa saya yang berlatar belakang serba pas-pasan ini -alhamdulillah- bisa menjadi ketua MPR. Nah kalian anak-anak ku semua, yang bersekolah di tempat yang megah ini, dengan semua fasilitasnya yang lengkap, guru-guru yang hebat, seharusnya kalian bisa lebih baik dari saya.“.

 

Point yang Kedua, Beliau mengajak umat Islam untuk bersatu, karena persatuan adalah kunci untuk maju. Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, masjidnya tidak sebagus zaman ini, tetapi mampu melahirkan sahabat, tabi’in yang luar biasa hebatnya. Peradaban saat itu sangat luar bisa, karena pada waktu itu umat islam sangat teguh berpegang kepada Al-Qur’an dan Hadist. Maka jika saat ini kita kembali berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Hadist, in sya Allah kita akan mampu mengalahkan negara super power. Sebagaimana kaum muslimin dahulu mampu menaklukkan Roma, negara super power kala itu. Kunci keberhasilan mereka adalah kuatnya persatuan dan teguhnya mereka dalam berpedoman kepada Al-Qur’an dan Hadist.

Oleh karena itu, pada point kedua ini, Beliau mengajak Umat Islam  untuk kembali bersatu dalam memegang prinsip-prinsip kejayaan mereka. Banyak permasalahan fundamental yang harus dituntaskan. Dan hal tersebut tidak akan mungkin terselesaikan, jika ummat Islam terus bertengkar dalam permasalahan-permasalahan yang tidak substansial. Bila umat Islam bisa bersatu, saling menghormati dan menghargai, maka energy umat akan terarahkan pada hal-hal yang positif, hal-hal yang dapat lebih memperkuat dan bermanfaat buat mereka.

 

Pada point Ketiga, Beliau menjelaskan Empat Pilar Kenegaraan. Empat Pilar tersebut adalah :

  1. Pancasila
  2. Bhineka Tunggal Ika.
  3. NKRI.
  4. UUD 1995

Mengawali uraiannya pada point ini, Beliau secara global menjelaskan tentang sejarah nusantara ini dan betapa peran umat Islam dalam proses pembebasan nusantara dari cengkraman para penjajah sangatlah besar dan tidak akan mungkin dipisahkan dari sejarah bangsa.

 

Diantara hal yang cukup menarik dalam kuliah umum yang Beliau sampaikan ini adalah komentar Beliau terhadap pertanyaan yang diajukan oleh seorang santri. Dalam pertanyaan tersebut, Santri itu sedikit bercerita tentang cita-cita awalnya ingin menjadi seorang pemain bola. Namun kemudian cita-cita itu bergeser, ingin menjadi seorang politisi. Kata Beliau menanggapi cerita sang Santri, kurang lebihnya adalah ; Jika keinginan ananda ingin menjadi politisi adalah mendulang harta, maka kembalilah pada cita-cita awalmu, yaitu menjadi seorang pemain bola.

 

Demikian torehan singkat dari pemaparan yang Beliau sampaikan dalam kuliah umumnya. Dan di akhir pemaparannya, Beliau berpesan secara khusus kepada para santri ;

Belajarlah dengan sungguh-sungguh, jadilah anak-anak yang tangguh, cerdas, berwawasan luas. Dan saya do’a kan agar kalian semua menjadi muhajid-mujahid yang memperjuangkan Islam di negeri ini.

 

Ditulis Oleh : Helmi Yahya
(Mahasantri Ma’had ‘Aly Al Binaa, Semester IV)

2019-04-03T11:25:30+00:00 31 March 2019|Kegiatan|Comments Off on Catatan Dari Kunjungan Ketua MPR RI
Kontak kami