Al Uluwwu Al Himmah Dalam Menjaga Prinsip

//Al Uluwwu Al Himmah Dalam Menjaga Prinsip

Al Uluwwu Al Himmah Dalam Menjaga Prinsip

Alhamdulillah, penjabaran yang cukup gamblang dan jelas telah disampaikan oleh Pimpinan Pesantren Al Binaa Al Ustadz Aslam Muhsin Abidin, Lc tentang bagaimana para Ulama dalam membahas masalah hati. Para Ulama dalam membeberkan urusan hati tidak pernah terlepas dari apa yang namanya (al-Uluwwu al-Himmati) atau Motivasi yang tinggi bagaimana agar hati tersebut selalu condong kepada hal-hal yang akan menyebabkan ketaaatan seorang muslim kepada Allah Jalla wa Ala.

Para Ulama memberikan gambaran bagaimana gambaran hati seorang Muslim ini bak ibarat binatang serangga yaitu lebah (an-Nahl) yang menghasilkan madu. Bagi lebah pantang sekali mengisap dari sesuatu yang tidak baik, seekor lebah pasti akan mengisap sari-sari yang akan menghasilkan madu dari sesuatu yang diangap paling bersih, paling wangi dan paling manis sekalipun jarak yang ditempuh harus dilalui berkilo-kilo meter. Pantang bagi lebah penghasil madu untuk menurunkan standarnya  dengan mengisap dari yang kotor dan tempat sembarangan. Lebah akan selalu menjaga al-Uluwwu al-Himmah nya tidak mungkin karena tidak menemukan bungan yang wangi, harum dan manis lantas dia berbalik mengisap kotoran semoisal kotoran ayam atau burung. Lebha juga pasti kaluu sudah berhasil dalam misinya pasti dia akan pulang ke Ratu lebah di sarangnya.

Begitu juga dengan sosok seorang muslim dia harus menjaga al-Uluwwu al-Himmah  dengan terus menjaga ketaatannya dalam beribadah hanya kepada Allah Jalla wa ‘Ala semata, tidak dicampuri dengan segala sesuatu yang akan menurunkan standar ibadahnya , dia harus berusaha dengan penuh kesungguhan untuk menjaga prinsip hidupnya sebagai hamba Allah yang diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya semata.

Patut menjadi gambaran, betapa sosok seorang Imam Bukhori sewaktu kecilnya beliau rela meninggalkan kampung Bukohoro dalam rangka untuk al-Uluuwu al-Himmah rela harus menaiki unta atau kuda sesekali berjalan kaki pergi ke Makkah dan Madinah untuk mencari ilmu, rasa lelah dan letih sungguh tidak dihiraukan karena prinsip yang dipegang dalam hidupnya, sekali lagi seorang Imam Bukhori tidak ingin menurunkan derajat prinsip al-Uluuwu al-Himmah sehingga beliau menjadi Ulama termashur dalam urusan hadits dan kitab-kitabnya menjadi rujukan bagi kaum muslimin.

Sekarang ini tepat di bulan masehi adalah malam pergantian tahun baru 2016, yang dalam Islam hal itu tidak pernah ada dan tidak pernah dikenal dari semenjak Nabi Shallalahu alaihi wasallam, para Shahabatnya, Tabiiin dan Tabiut Tabiin serta Ualam salaf. Merayakan pergantian tahun baru adalah murni kebiasaan orang kafir Yahudi dan Nasrani. Maka seorang muslim tidak mungkin akan rela menurunkan derajat prinsip al-Uluwwu al-Himmahnya dengan larut merayakan pergantian tahun baru tersebut.

Maka kenapa para santri Al Binaa dari awal mulai berdiri 2004 sampai sekarang tidak pernah meliburkan para santrinya di liburan Akhir Semester Ganjil di akhir Desember, Pesantren Al Binaa tetap akan menjaga prinsip sebagai mana lebah di atas yang tidak mungkin akan menurunkan derajatnya apalagi sampai mengikuti kebiasaan orang Yahudi dan Nasrani dalam merayakan pergantian tahun baru. Al Binaa dalam hal ini sangat tegas dan keras dengan segala hujjah (alasan) yang telah disampaikan Pimpinan Pesantren kepada seluruh keluarga besar Al Binaa bahwa siapa saja yang coba-coba diantara para santri yang ingin ikut serta dengan ritual pergantian tahun baru kebiasaan menunggu pukul 00.00 maka Al Binaa tidak ada ampun terhadap santri tersebut. Atau siapa saja yang dalam hatinya merasa condong dengan segala kebiasaan gegap gempita orang-orang ramai dengan menyalakan kembang apinya, merconya dan meniup terompet dan lain sebagainya, maka jelas-jelas santri tersebut telah jatuh ke dalam tipu daya Syetan dan dia rela menurunkan prinsip standar imanya tidak lagi ingat dengan prinsip al-Uluwwu al-Himmah. Sama saja seperti yang disampaikan oleh Allah Jalla wa Ala kepada orang – orang Yahudi yaitu “Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina.” (QS Al-Baqarah: 65).

Jadi keutamaan menjaga prinsip dalam membentengi aqidah ini nyata-nyata harus tumbuh dan menyatu dalam hati seorang muslim. Semoga Allah menjaga hati kita untuk senantiasa condong kedalam ketatannya dan dipalingkan dari berbuat maksiat kepada-Nya. Amiin

(Disampaikan oleh: Pimpinan Pesantren pada tanggal 31 Desember 2015 di Masjid Riyaadhusolihin)

2018-01-31T15:25:38+00:00 1 January 2016|Artikel Islam|Comments Off on Al Uluwwu Al Himmah Dalam Menjaga Prinsip

About the Author: